Archive for the ‘trik ‘n trips’ Category

Mengelola Waktu

May 7th, 2010

waktuPerhatikan jam tangan kita baik-baik, apakah sedang menunjukkan pukul 8 tepat? Coba bandingkan dengan jam tangan orang-orang di sekitar kita. Bila ada selisih satu atau dua menit, itu tak apa. Namun kita mudah sekali menemukan banyak orang memajukan jarum jamnya lima atau sepuluh menit lebih cepat dari yang semestinya. Itu dilakukan, alasan mereka, agar tidak terlambat ke tempat tugas. Dengan memajukan jarum jam lebih cepat, mereka terpacu untuk melakukan kegiatan

lebih dini. Yang menarik, sebenarnya mereka sadar akan perbuatan itu. Ini terbukti bila ditanya, mereka akan mengakui kesengajaan itu dan tahu persis berapa menit mereka memajukan “waktu” mereka. Mereka sengaja “mengelola” waktu untuk “memanipulasi” diri mereka sendiri. Mereka mempunyai waktu mereka sendiri, sedangkan kita pun memiliki waktu kita sendiri. Meski kita semua tampaknya sedang berjalan di satu garis waktu besar yang sama, namun “jalan setapak” yang kita lalui amat berbeda-beda.

Pertanyaan #1

–Sadarkah anda bahwa mengelola waktu bukan sekedar menghitung jam demi jam (secara kuantitatif), melainkan mengelola emosi-emosi (secara kualitatif)? Sadarkah anda juga bahwa anda memiliki “waktu eksklusif” anda sendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain?

Kini mari perhatikan laju jarum jam kita masing-masing. Setiap jarum detik, menit dan jam, bergerak secara teratur. Demikian pula seluruh jarum jam yang ada di dunia, mereka berdetak seirama dan sejalan, seolah ada kesepakatan global untuk tidak saling mendahului ataupun tertinggal. Karena kesepakatan itulah kita bisa merencanakan penggunaan waktu dengan sesama. Kita bisa menyusun janji dengan orang lain tanpa harus saling berselisih mengenai perbedaan waktu. Namun, mari perhatikan saat kita menantikan sesuatu, waktu seolah berjalan lambat sekali. Semenit bagaikan sejam. Sebaliknya, saat kita sedang diburu-buru oleh batas waktu pekerjaan, waktu seolah berjalan cepat sekali. Sejam bagaikan semenit saja. Terasa ada dua macam “waktu” yang berbeda, yang pertama adalah waktu yang ditunjukkan dengan perjalanan teratur jarum jam tangan kita (waktu fisik), dan yang kedua adalah waktu yang berjalan dalam pikiran kita sendiri (psikis).

Pertanyaan #2

–Menurut anda mengapa ada “waktu” yang berjalan cepat dan lambat? “Waktu” apakah itu? Apakah anda juga sadar bahwa ada “waktu” yang berjalan secara teratur? “Waktu” apakah itu?

Kita semua mendapat bekal sejumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Ini berlaku bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Secara umum kita diajar untuk membagi waktu sebanyak 24 jam dalam sehari tersebut menjadi tiga bagian, yaitu; pertama, waktu kerja/aktif untuk bekerja dan melakukan berbagai kegiatan/kewajiban (biasanya dimulai pukul 8 pagi hingga 4 sore), kedua, waktu tidur/istirahat untuk tidur, beristirahat memulihkan kondisi tubuh yang digunakan selama waktu bekerja (biasanya (antara pukul sembilan malam hingga 5 pagi), dan waktu bebas/pribadi yang tersedia di sela-sela waktu tidur dan kerja. Waktu bebas/pribadi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga dan sosial. Pola ini, yang entah sejak kapan dikenal, tampak berusaha menyeimbangkan aktivitas fisik dan psikis. Namun, dalam kehidupan kerja modern, waktu menjadi tolok ukur baru bagi sebuah kemajuan. Semakin cepat semakin baik. Waktu dipandang sebagai sumber daya yang tak ternilai yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Muncullah tuntutan untuk mengelola waktu agar kita bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin. Diciptakanlah berbagai metode, alat, dan tehnologi untuk mengatur atau lebih tepatnya menghemat waktu kita. Bahkan, tiba-tiba seringkali kita merasa mengalami kekurangan waktu. Keseimbangan pola 3 x 8 jam fisik yang kita kenal sebelumnya lambat laun bergeser. Tanpa sadar, kegiatan kerja mendominasi hampir seluruh waktu yang tersedia. Kita mulai mengurangi waktu tidur, dan tidak ada banyak waktu lagi untuk bersosialisasi. Bersamaan dengan itu pula keseimbangan waktu psikis juga mengalami pergeseran.

Pertanyaan #3

–Bagaimana anda mengelola waktu anda? Seberapa seimbangkah anda mengola waktu anda?

Maka sebenarnya kunci pengelolaan waktu, baik fisik dan psikis kita, adalah keseimbangan antar keduanya. Dan keseimbangan itu tidak terletak pada bandul

jam tangan kita, melainkan pada pikiran kita, sejauh mana kita mampu mengukur dan menimbang setiap detik penggunaan waktu kita dengan kegiatan-kegiatan yang

multidimensi. Mengelola waktu berarti pula menjaga keseimbangan aktivitas kita dengan nilai, prinsip, manfaat dan tujuan.

Pertanyaan #4—

Menurut anda, apa artinya sebuah perencanaan waktu?

Kebanyakan dari kita menggunakan “time planner” untuk merencanakan penggunaan waktu. Kita menuliskan agenda kegiatan dalam sebuah tabel waktu linier, dari waktu sekarang menuju waktu-waktu selanjutnya. Kita pilah-pilah menjadi jam dan menit. Saat menulis, pikiran kita melompat jauh ke depan, dan seolah-olah telah melihat apa yang akan kita lakukan. Mungkin juga, saat menyusun agenda, kita menengok ke belakang untuk melihat apa yang telah dan belum dilakukan. Begitu terus, pikiran kita melompat ke belakang lalu ke depan lagi. Teramat jarang sekali pikiran kita terhenti pada kegiatan “saat ini”. Pada saat kita menulis, pikiran kita tidak sepenuhnya tertuju pada kegiatan menulis, melainkan pada rencana mendatang. Pertanyaannya adalah, sebenarnya waktu yang sedang kita alami ini adalah waktu apa? Waktu akan datang? Atau waktu lampau? Tentu jawabannya adalah waktu sekarang, waktu kini. Waktu akan datang belumlah datang. Sedangkan waktu lampau sudah tertinggal di belakang. Jadi sebenarnya, perencanaan waktu adalah sebuah pekerjaan imajiner, bahkan saat pikiran kita berpikir tentang waktu, seringkali waktu tersebut hanyalah sesuatu yang imajinatif belaka. Ini disebabkan betapa tidak mudahnya kita menyadari kehadiran “waktu sekarang”. Padahal kunci pemanfaatan waktu yang sebaik-baiknya adalah bila kita sadar bahwa yang tersedia hanyalah “waktu sekarang”, bukan “waktu nanti” apalagi “waktu lampau”. Kesadaran ini menuntun kita untuk melakukan sesuatu sebaik-baiknya sekarang, bukan nanti.

Pertanyaan #5

–Sadarkah anda bahwa waktu yang ada hanyalah waktu “sekarang”? Sadarkah anda bahwa waktu kemarin dan waktu esok sebenarnya hanya ada dalam kerja pikiran anda? Apakah anda menangkap waktu yang “ketiga” selain waktu fisik dan psikis?

Mengelola waktu bukan sekedar mengelola kegiatan, emosi, apalagi sekedar mencocokkan jam tangan anda. Mengelola waktu adalah mengelola kehidupan. Mengelola waktu menuntun kita untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupan ini. Sayangnya, tidak cukup mudah bagi kita bisa memahami apa sebenarnya “waktu” itu. Padahal, para bijak sering berkata, “hiduplah saat ini” karena yang tersedia memang hanya “saat” ini.

Tags:
Posted in kastrat, trik 'n trips | Comments (0)

Trik Berkomunikasi yang Efektif

January 25th, 2010

PERNAHKAH Anda asyik berbicara di depan umum, namun tak ada satupun orang yang benar-benar memerhatikan topik yang Anda bicrakan? Jika iya, berarti ada yang salah dengan gaya komunikasi Anda.

communicate

Jika pekerjaan Anda berhubungan erat dengan bidang yang mengharuskan Anda memotivasi karyawan atau rekan kerja, kegagalan berkomunikasi  tentunya adalah hal yang fatal. Kegagalan ini hampir pasti disebabkan gaya bicara Anda yang monoton.

Jika gaya Anda monoton, jangan harap audiens akan terpengaruh, persepsi mereka terhadap topik yang Anda inginkan juga akan terbatas. Ujung-ujungnya, mereka tidak akan mampu menangkap pesan dan harapan yang Anda tumpukan pada mereka.

Tentunya Anda tak ingin hal ini terjadi pada diri Anda. Karena itu, satu-satunya cara ialah dengan mengubah gaya berkomunikasi yang monoton tersebut.

Seperti apa gaya komunikasi yang monoton itu? Konsultan komunikasi Stacey Henke mengatakan, salah satu gejalanya ialah saat Anda tidak memperlihatkan ekspresi yang sesuai dengan apa yang Anda katakan. Misalnya saja, saat megatakan bahwa Anda senang bekerja sama dengan seseorang, tapi ekspresi wajah Anda datar dan mata Anda tidak bisa mengharapkan orang tersebut mempercayai kata-kata Anda bukan?

Maka itu, mulailah berbicara dengan penuh ekspresi. Hindarilah gaya monoton agar orang-orang di sekeliling Anda tertarik untuk mendengar dan menjalankan apa yang Anda inginkan. Hanke memberi beberapa saran lain agar Anda bisa lebih lihai dalam berkomunikasi.

Perhatikan jeda

Jangan pernah berkata “eee“, “uhm” atau “kata” sejenis ini saat Anda bingung mau berkata apa. “Kata” ini mengindikasikan bahwa Anda tidak tahu apa yang ingin Anda katakan selanjutnya, atau Anda bingung mau mengatakan apa. Jika ini terjadi, tentu Anda akan dianggap tak memiliki kredibilitas.

Jika kebuntuan menyerang Anda, Hanke menyarankan agar Anda jeda atau berhenti sejenak sambil memikirkan kalimat apa yang sebaiknya Anda ucapkan. Tak perlu mengisi kekosongan dengan bergumam atau mengeluarkan kata aneh karena ini akan mengacaukan pesan yang ingin Anda sampaikan pada orang lain.

“Dengan berhenti sejenak, Anda punya waktu untuk berpikir sekaligus menjaga perhatian pendengar Anda. Tentunya saat Anda mengambil jeda beberapa saat, pendengar akan terus mengamati apa yang selanjutnya akan Anda katakan,” ujar Hanke seperti dikutip dari womensmedia.com.

Jadi, jangan ragu untuk menarik nafas sejenak dan berpikir tentang apa yang ingin Anda katakan.

Tags:
Posted in kastrat, trik 'n trips | Comments (0)

PERCAYA DIRI, penting..!

January 25th, 2010

Percaya diri itu seni. Jika Anda merasa belum percaya diri, maka Anda bisa menjadi percaya diri. Jika Anda sudah merasa percaya diri, maka Anda bisa menjadi lebih percaya diri.

Percaya diri itu dinamis, ia bisa naik dan turun, berubah dan berkembang. Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menjaganya agar tetap berada di tingkat yang optimal dan sehat.

UNTUK APAPUN, ANDA HARUS BERBICARA

Dalam aktivitas apapun yang Anda lakukan, Anda akan melakukan tiga hal berikut ini:

1. Memimpin;
2. Menjual;
3. Mempresentasikan.

Dalam faktanya, Anda bahkan mungkin melakukan ketiganya sekaligus.

Jika Anda sedang memimpin, maka Anda pasti sedang menjual sesuatu agar diikuti oleh orang-orang yang Anda pimpin. Dan dalam melakukannya, Anda akan menyajikan atau mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang menjual sesuatu, Anda sedang mengupayakan posisi memimpin, agar prospek Anda mau mengambil keputusan sesuai dengan yang Anda inginkan sebagai pihak yang menjual. Dan sekali lagi, Anda pasti mempresentasikan berbagai hal yang relevan.

Jika Anda sedang berpresentasi, maka Anda bisa dipastikan sedang menjual sesuatu. Dan karena Anda sedang berusaha menjual sesuatu, maka Anda pasti berupaya untuk memimpin audience, agar mendengarkan Anda, agar menyimak presentasi Anda, agar memahami maksud dan tujuan Anda, dan agar teryakinkan sesuai tujuan presentasi Anda.

Dalam melakukan semua aktivitas di atas, media paling umum yang akan Anda gunakan adalah komunikasi verbal alias berbicara.

Muara dari semua aktivitas itu, atau hasil akhir dari semua aktivitas itu, akan sangat ditentukan oleh kualitas bicara Anda. Sebelum sampai ke persoalan teknis seperti struktur bicara, intonasi, gaya bahasa atau bahkan pilihan kata dan kalimat, aspek mendasar dari kualitas bicara Anda adalah tingkat percaya diri Anda saat melakukannya.

Singkatnya, Anda harus menaburkan aura percaya diri saat berbicara. Karena dari situlah segala hasil akhir akan ditentukan. Jadi, titik awal Anda untuk semua aktivitas itu, adalah meraih rasa percaya diri yang lebih baik.

Tags:
Posted in trik 'n trips, Uncategorized | Comments (1)

DARI MANA DATANGNYA PERCAYA DIRI?

January 25th, 2010
Percaya diri datang dari kemampuan berkomunikasi secara verbal, dengan berbicara.
Dengan berbicara, Anda akan berbicara pada diri sendiri dan berbicara pada orang lain.

Berbicara kepada diri sendiri akan menjalankan proses manajemen diri. Andalah orang yang paling tahu harus mengatakan apa pada diri sendiri.

“Saya bisa” atau “Saya tidak bisa”.
“Saya akan berhasil” atau “Saya akan gagal”.
“Saya harus melakukan ini” atau “Saya memang menginginkan ini”.
“Saya yang menentukan” atau “Bukan Saya yang menentukan”.
“Saya yang memilih” atau “Orang lain yang memilih”.
“Terserah Saya” atau “Terserah orang lain”.

Berbicara kepada orang lain akan menjalankan proses manajemen diri orang lain.

“Anda harus begini atau harus begitu”.
“Saya meminta Anda melakukan ini atau itu”.
“Saya ingin hasilnya begini atau begitu”.
“Saya yang menentukan, bukan Anda yang menentukan”.
“Saya yang memerintah Anda yang mengikuti”.
“Saya yang menjual dan Anda yang membeli”.
“Jika Anda ingin berhasil, ikuti saran Saya”.

Jadi, mulailah segala keberhasilan Anda dengan percaya diri saat berbicara.

Tags:
Posted in trik 'n trips | Comments (0)

Latihan Konsentrasi (Fisik)

January 8th, 2010

Kalau Anda ingin berkonsentrasi, usaha yang paling sulit justru memusatkan pikiran itu sendiri.

Tak banyak orang yang mampu mengendalikan pikiran. Apalagi memusatkan segenap perhatian pada satu soal tertentu dengan mengabaikan sama sekali ingatan, pendengaran, perabaan, penglihatan, perasaan, dan semua kegiatan pikiran lain.

Sungguh sulit, memang. Sebab sekalipun tidak dalam keadaan berfikir, pikiran mengadakan kontraksi sendiri. Ia terus mengelana ke mana-mana, seakan-akan kita mengkhayal. Semakin ditekan, semakin mengganggulah pikiran yang tak diundang itu. Pikiran yang setiap detik dipergunakan, rupanya telah terbiasa dengan sikap tak suka diam. Karena itulah pemusatan pikiran memerlukan latihan yang sungguh-sungguh dan penuh kesabaran. Tapi, semua orang pasti mampu melakukannya. Asal mau saja…!

Memang, dalam taraf pertama akan mengalami kesulitan dan barangkali sedikit membosankan. Tapi cobalah tahan sedikit saja dengan penuh kesabaran. InsyaAllah kalau sudah mulai terbiasa, apalagi dilakukan kontinu pada jadwal yang cukup teratur, bisa-bisa malah “ketagihan”. Cuma jangan kaget, hal-hal yang cukup luar biasa mungkin akan terjadi. Kalau betul sudah sampai sedemikian, Anda mulai “naik tingkat”, tergolong “the high class”.

Kalau begitu, bagaimana caranya?
Duduklah. Boleh di kursi, boleh diranjang, atau di lantai juga oke. Setelah mengambil sikap cukup santai dan diperkirakan bisa bertahan lama, maka kini pejamkan mata Anda. Lalu berhitunglah dengan tenang sebagai berikut: 1-2-3-4-5-6 dan seterusnya sampai 200. Anda boleh mengulangnya berkali-kali sampai cukup waktu yang Anda jadwalkan sendiri.

Aturlah sedemikian rupa, sehingga Anda menghitung disaat Anda sedang menurunkan nafas. Atur juga sedemikian rupa sehingga jarak antara dua angka hitungan selalu konstan (tetap). Jangan sampai waktu menghitung dari 23 ke 24 –misalnya- memakan waktu 30 detik sementara hitungan berikutnya 1 menit, dan yang lainnya 5 detik. Usahakan selang waktu senantiasa teratur. Barangkali awalnya memang “amburadul”. Tapi terus sajalah, sampai Anda betul-betul bisa.

Namun Anda bisa rasakan, tiba-tiba Anda “dipaksa” untuk hanya memikirkan “apa lagi angka setelah ini” secara kontinu, hingga tak terasa pikiran Anda terpusat. Inilah kehebatannya. Seolah tanpa terasa, tiba-tiba Anda terpaku hanya pada angka-angka.

Kalau ternyata cara yang pertama terlalu mudah, bisa juga memilih cara yang lain. Hitung angka dari 1 s/d 50 dengan jarak napas seperti tadi, tetapi setelah hitungan ke 50, Anda harus atret(menghitung mundur), yaitu: 50-49-48-47-46, dan seterusnya.

Cara yang lain juga boleh, tapi ini lebih sulit. Yaitu dengan cara menghitung lompat dari angka 1 s/d 21 dengan lompat 2, seperti berikut: 1-3-5-7-9 dan seterusnya lalu balik lagi: 21-19-17-15-13 sampai 1 lagi.

Ulangi terus sampai waktu latihan Anda habis. Anda bisa tetapkan sendiri semampu Anda. Tapi usahakan jangan terbiasa berhenti di tengah jalan. Ini justru awal kegagalan.

Dengan latihan seperti ini, apa untungnya? Insya Allah Anda akan terlatih tenang, tekun dan sabar. Anda tak kan lagi memiliki sifat terburu-buru yang biasanya dibimbing oleh nafsu angkara murka. Anda akan memiliki pikiran yang jernih, bersih dan tajam. Keyakinan diri Anda akan bertambah sehingga Anda akan sukses dalam segala usaha. Shalat anda pun akan semakin khusyu’ dan otak Anda akan semakin cerdas.

Tak ada salahnya, boleh Anda coba. (pustakanilna)

Tags:
Posted in trik 'n trips | Comments (0)