Cash Is The King
Roda perekonomian saat ini dapat dikatakan telah digerakan oleh uang. Uang saat ini telah menjelma menjadi suatu kekuatan yang memiliki daya penggerak luar biasa. Ukuran kemanusiaan saat ini benar-benar telah berubah. Orang yang punya uang adalah manusia, semakin berlimpah uang yang dimiliki, semakin manusia lah ia. Segala kebutuhan kemanusiaannya akan mudah dipenuhi. Di sisi lain, seseorang yang tidak punya uang (kadang-kadang) memang masih dianggap manusia, hanya saja, mereka invisible. Tak ada orang yang mau peduli. Kejam memang, tapi begitulah jika dunia diatur oleh kekuatan uang. Lantas mengapa uang bisa sangat berkuasa?
The chronicle of Money
Dahulu manusia tidak mengenal adanya uang. Lebih tepatnya mereka tidak peduli. Jauh sebelum peradaban lahir, manusia telah hidup dalam kelompok-kelompok atau suku-suku. Dalam keselarasan kelompok dimana semua anggota kelompok bahu-membahu untuk survive dalam dunia yang keras, semua kebutuhan mereka telah terpenuhi dengan bekerja bersama dan pembagian jatah. Ketika populasi semakin berkembang dan tak lagi dimungkinkan bersama, manusia mulai menyebar dan membentuk kelompok yang lebih kecil, biasa disebut dengan keluarga. Kebutuhan hidup yang biasa terpenuhi oleh kelompok kini harus mereka penuhi sendiri. Seringkali suatu kebutuhan tidak dapat mereka penuhi dengan tangan mereka sedang mereka memiliki hal lain yang lebih dari cukup untuk dikonsumsi sendiri, sehingga diperlukan suatu cara agar disatu sisi semua kebutuhan terpenuhi, disisi lain tidak ada sumber daya yang menganggur. Sehingga diperkenalkanlah sistem tukar-menukar (barter).
Pada masa barter, setiap orang berhak menukar apa yang mereka punya dengan apa yang mereka butuhkan. Untuk memudahkan pertukaran, ditunjuklah suatu tempat yang kelak akan disebut dengan pasar. Dengan sistem barter, segalanya terasa lebih mudah. Seiring perkembangan intelegensi manusia, mereka mulai berpikir bahwa sistem barter tidak begitu adil. Lebih tepatnya tidak ada ukuran pasti terhadap nilai setiap barang. Berapa kilogram garam yang bisa didapat seorang yang membawa seekor sapi? Bagaimana pedagang sapi tersebut bisa memenuhi kebutuhanya jika dia juga menginginkan beras, sedangkan pedagang garam dan pedagang beras berbeda?. Inilah salah satu kelemahan barter. Selang waktu berganti, manusia mulai berpikir bahwa barter tidaklah praktis, harus ada satu cara baru yang lebih praktis untuk memenuhi kebutuhan setiap orang.
Dimulai dari peradaban mesopotamia, raja dari mesopotamia memperkenalkan suatu cara baru dalam pertukaran. Sistemnya cukup sederhana, Barang yang dimiliki ditukar dengan logam mulia, kemudian logam mulia ditukar dengan barang yang diinginkan. Pada masa ini, logam yang digunakan adalah perak, emas, dan tembaga dimana setiap logam mulia memiliki nilai masing-masing. Kebiasaan ini ditiru oleh hampir semua bangsa dan mampu bertahan untuk waktu yang lama. Kemudian pada abad ke 15, manusia mulai berpikir bahwa emas juga bukan sesuatu yang praktis sebagai alat tukar, karena setiap akan pergi ke pasar, seseorang harus membawa emas hingga beberapa kilogram. Setelah jaman kerajaan berakhir dan berganti menjadi jaman kedaulatan negara, dibuatlah sebuah peraturan perundangan yang menyatakan bahwa akan digunakan suatu alat pertukaran baru yang berbentuk logam dan kertas yang mana logam dan kertas tersebut sama nilainya dengan emas, karena negara menjamin uang tersebut dengan cadangan emas. Segera setelah itu, uang menjadi suatu alat tukar baru yang masih digunakan hingga saat ini.
Money : Definition and Evolution
Uang yang pertama kali diciptakan adalah uang logam. Karena bentuknya mirip dengan logam mulia yang telah digunakan saat itu. Satu-satunya perbedaan adalah uang tersebut memiliki nominal. Definisi uang logam sendiri adalah uang yang berbahan baku logam. Maksud dari pembuatan uang logam ini adalah penyeragaman dari alat tukar dan efisiensi. Pada masa digunakanya logam mulia, nilai logam mulia di tiap daerah berbeda-beda, tergantung kesepakatan di daerah tersebut. Dalam suatu daerah mungkin emas lebih tinggi dari perak, tapi di daerah lain perak bisa lebih tinggi dari emas. Dengan dikeluarkanya uang logam, maka nilai dari tiap logam tersebut menjadi terstandarisasi. Juga, karena kepingan logam relatif lebih mudah dibawa dari bongkahan batu mulia, uang logam relatif lebih efisien dari logam mulia.
Setelah tercipta uang logam, masyarakat kini dikenalkan kepada suatu istilah baru, yaitu nilai intrinsik dan nilai nominal. Apakah itu nilai intrinsik dan nilai nominal? Nilai nominal adalah Nilai yang tercantum dalam uang tersebut. Sedangkan Nilai intrinsik yaitu sejumlah nilai yang harus dikeluarkan untuk memproduksi setiap uang tersebut. Jadi uang logam yang nominalnya 100, tidak berarti memiliki Production Cost 100 juga. Dalam uang, nilai intrinsik dan nilai nominal seringkali berbeda. Pembuatan uang logam yang terus menerus membuat pemerinth khawatir akan kelangsungan produksinya, karena nilai intrinsik dan nilai nominal uang logam relatif sama. Sehingga untuk mengeluarkan uang 1.000.000 dibutuhkan cost +/- 1.000.000.
Maka pemerintah mencoba membuat suatu inisiatif untuk mengeluarkan uang jenis baru yaitu uang kertas. Uang Kertas adalah uang yang berbahan baku kertas. Uang jenis ini memiliki nilai nominal yang tercantum dalam lembaranya. Selain memiliki nilai nominal, uang kertas juga memiliki nilai intrinsik, yaitu sejumlah nilai yang harus dikeluarkan untuk memproduksi satu lembar uang kertas tersebut. Dalam hal ini, nilai nominal uang kertas lebih besar dari nilai intrinsiknya. Dari sisi pemerintah, pengeluaran uang kertas adalah efisiensi yang luar biasa. Karena untuk memproduksi uang kertas senilai 1.000.000 cost yang dibutuhkan paling banyak hanya sepersepuluhnya. Sedang bagi masyarakat uang kertas jauh lebih mudah untuk dibawa dan disimpan daripada uang logam. Bersamaan dengan pengeluaran uang kertas, mulai dipopulerkan lembaga keuangan, yaitu lembaga yang fungsinya menghimpun dana dari masyarakat, dan menginvestasikannya dalam proyek-proyek.Memasuki abad 21, lembaga keuangan memperkenalkan suatu jenis uang baru, yaitu giro. Giro adalah suatu pengakuan dari lembaga keuangan atas uang yang dipercayakan masyarakat terhadap lembaga keuangan. Giro dapat berbentuk tabungan, deposito, cek, dan lain-lain.
Money-minded and Potensial Problem
Semenjak diperkenalakan uang, orientasi manusia tidak lagi kebutuhan, tapi uang. Dahulu manusia bekerja demi memenuhi kebutuhanya, sekarang banyak manusia yang bekerja demi uang. Ingat nasihat orang tuamu? Sekolahlah yang tinggi, jadilah anak yang pintar, jadi kamu dapat mencari uang kelak. Atau ucapan bibimu saat kau masih balita? “Ayah kerja cari u..u.. uang.”
Bahwasanya, pada jaman sekarang, uang mendikte semuanya. Pendidikan, Kesehatan, Makanan, Hiburan, Ibadah. Segalanya. Dapat dikatakan, orang yang tidak punya uang tidak boleh sakit, karena tidak ada rumah sakit yang bersedia merawatnya. Orang yang tidak punya uang kehilangan hampir seluruh hak dalam hidupnya. Bahkan untuk beramal diperlukan uang, karena, bahkan orang yang sedang kesulitan sekalipun jarang mau menerima sumbangan dalam bentuk doa. Sementara orang yang kaya, dapat membeli apa saja. Bahkan mereka dapat membeli hukum. Kesenjangan yang begitu jauh menjadikan orang yang kurang beruntung hanya berfokus pada bagaimana mendapat uang. Karena bagi mereka uang yang diterima hari ini adalah perpanjangan nyawa satu hari lagi. Orang yang sulit ini, ketika mempuyai keturunan cenderung memiliki tendensi agar anaknya kelak ‘mencari uang’ yang lebih dari orang tuanya. Karena banyak uang berarti bahagia. Jadilah generasi-generasi selanjutnya menjadi money-minded, yaitu orang-orang yang hanya mencari uang, namun tidak dapat membuat proyek yang menghasilkan uang. Bahkan mereka cenderung tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika punya uang banyak. Itulah mengapa, orang miskin yang menang undian cenderung menjadi lebih miskin dalam jangka panjang.
Money-minded adalah awal dari segala potensial problem of money. Karena hanya terbiasa mencari, maka ketika tidak ada uang yang beredar akan langsung menyebabkan kepanikan dalam masyarakat. Padahal, disisi lain, akibat buruk dari uang adalah nilai nominal uang jauh lebih besar dari harga uang itu sendiri. Ketika uang yang beredar terlalu banyak, uang tersebut nilainya akan turun, Karena produksi barang kebutuhan tidak mampu mengejar kecepatan peredaran uang. Akibanya terlalu banyak orang yang dapat membeli suatu barang yang produksinya terbatas. Harga barang melonjak tinggi. Dan kemiskinan bagi orang yang tidak memegang uang semakin menjadi.
Inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah tetap mempertahankan uang logam. Karena nilai intrinsik uang logam relatif sama dengan nilai nominalnya. Sedangkan uang kertas nilai nominalnya lebih tinggi dari intrinsiknya. Analoginya adalah, untuk membuat uang logam senilai 1000, pemerintah harus menarik uang masyaraka +/- 1000. Sedang untuk membuat uang kertas senilai 1000, pemerintah hanya perlu menarik uang masyarakat 200. Akibanya pada cost yang sama (1000) pemerintah dapat mengeluarkan uang dengan daya beli berbeda, uang logam daya beli 1000, atau 5 lembar uang kertas daya beli 5000 (@1000). Jika di pasar hanya ada satu barang X senilai 1000, maka A yang mempunyai uang logam dapat langsung membelinya. Sedangkan jika A, B, C, D, E masing-masing memiliki uang kertas 1000, maka akan terjadi perebutan yang menyebabkan harga barang X naik, dan konsumen yang bersedia membayar dengan harga lebih tinggi yang mendapat barang X.
Wise word of Money
Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan,
“Money can’t buy everything. yet, without money one’s can’t buy anytihing”
Namun, sebagai manusia, bersikaplah layaknya manusia. Manusia diciptakan dengan segala kekurangan agar saling melengkapi. Pandanglah orang tidak dari harta, namun sebagai mahluk ciptaan Yang Maha kaya. Dan segala harta yang ada didunia ini tidak akan kekal. Uang bukanlah tujuan, namun alat untuk mencapai tujuan. Sebuah ungkapan yang baik sekali tentang uang :
“ Jika kamu bekerja mengejar uang, maka kamu harus memberikan pelayanan terbaik. Jika kamu bekerja untuk memberikan pelayanan yang terbaik, uang yang akan mengejarmu. “ — Mario Teguh
(Arfinsha-Kastrat IMP STAN)

